asrama dan pendidikan

Kata ”asrama” bagi kebanyakan dari kita mungkin lebih terasosiasi dengan pendidikan, entah itu sekolah umum atau perguruan tinggi, mungkin karena kata asrama lebih melekat pada proses pendidikan.

Kini banyak institusi pendidikan yang membangun asrama untuk memudahkan siswanya mulai dari pesantren hingga perguruan tinggi. Asrama sebagai tempat tinggal temporer, tidak lagi dipandang karena kepraktisan sebagai tempat tinggalnya saja, tanpa disadari juga memiliki makna sebagai proses pendidikan tersendiri dan bahkan dapat dijadikan indikator kualitas pelayanan institusi pendidikan tinggi dalam menyediakan social environtment kampus yang baik.

Ketua umum Sarjana Pendidikan Indonesia, Soedjiarto, baru-baru ini mendengungkan wacana calon guru seharusnya tinggal di asrama sebelum mengajar siswa. Tujuannya untuk menumbuhkan sikap tanggung jawab dan perasaan santun kepada setiap calon guru. Sistem ini pernah diterapkan pada tahun 50-an.

Asrama dengan struktur organisasi asrama yang biasanya terdiri dari pemimpin, pembimbing, serta pengawas asrama akan menumbuhkan sikap tanggung jawab pada setiap anggotanya. Tinggal bersama di asrama juga menuntut para penghuninya untuk bersikap santun dan memahami satu sama lain.

Dengan frekuensi interaksi antar penghuninya yang padat tentu akan tumbuh semacam ikatan sesama penghuni asrama. Tempat tinggal yang sama mungkin dasar utama, kepentingan bersama adalah hal yang lain. Ikatan yang Iowie sebut “himpunan miniatur”.

0 Tanggapan ke “asrama dan pendidikan”



  1. Belum Ada Tanggapan

Tinggalkan Balasan