Arsip untuk April 18th, 2008

Midnight oil di Kabinet Indonesia Bersatu

Kevin Rudd yang menjabat perdana menteri Australia menggantikan tokoh incumbent dari partai liberal, Jhon Howard, november lalu mengumuman susunan kabinetnya yang memiliki perhatian khusus pada pendidikan, ekonomi, dan lingkungan. Yang unik dari dari daftar nama menteri yang ditunjuk Kevin Rudd adalah masuknya nama Peter Garrett, bekas bintang rock midnight oil yang terkenal dengan lagunya beds are burning, menjadi Menteri Linkungan dan Budaya. Masuknya seorang rocker memberi warna tersendiri kabinet baru Australia. Tentu tugas besar pertama yang dihadapi mantan rocker ini adalah menyelesaikan masalah suku Aborigin yang dimarginalkan bukan menyanyi atau makan kepala kelelawar seperti Ozzie Osborne.

Di Indonesia Kabinet Indonesia Bersatu pun tidak kalah, meski tidak ada menteri yang bekas rocker setidaknya ada dua figur yang sudah menghasilkan beberapa album musik. Menteri dalam negeri Mardiyanto salah satunya, mantan gubernur Jawa Tengah ini bahkan berhasil memecahkan rekor MURI sebagai gubernur pertama yangmampu menyampaikan pokok pikiran, kebijakan, dan aspirasi yang dikemas dalam sebuah album rekaman seni musik. Sang menteri kini bahkan sudah merilis 5 album musik, 4 album ber-genre campur sari dan satu album lain berisi lagu-lagu perjuangan gubahan Ismail Marzuki .

Selain Mendagri, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ternyata juga pernah membuat album. Album ini berisi sepuluh lagu-lagu hasil ciptaan beliau saat mengisi waktu luang tugas kenegaraan yang padat. Album yang bertajuk rinduku padamu ini dinyanyikan sejumlah artis top dan telah terjual 44.638 kopi setidaknya dalam versi asli karena pembajak Indonesia ternyata juga tidak pandang bulu dalam menjalankan profesinya dalam membajak.

Ditengah tugas yang segunung, Presiden ternyata masih sempat juga untuk berkarya. Salut buat SBY, semoga suatu saat bisa juga dapat double-platinum.

Krakatau Steel; Gajah putih yang rawan punah

Anggaran pendapatan tahunan pemerintah dalam APBN melalui perusahaan-perusahaan negara (BUMN) yang memiliki total kapitalisasi lebih dari Rp 1000 triliun ternyata tidak sebatas menarik deviden, divestasi saham pemerintah juga merupakan salah satu sumber pundi-pundi tahunan negara. Untuk tahun ini, diantara belasan BUMN yang akan di-privatisasi Krakatau Steel adalah salah satunya.

Krakatau Steel adalah produsen baja terbesar di Indonesia dengan kapasitas produksi 4-5 juta ton per tahun dan merupakan pemain utama di industri baja Nasionaldengan menguasai40% pangsa pasar dalam negeri. Perusahaan yang berlokasi di Cilegon, Banten, ini adalah satu-satunya perusahaan negara yang bergerak di industri hulu baja. Rencana privatisasi perseroan negara ini sangatlah menarik minat banyak investor luar negeri karena disamping infrastruktur yang memadai dan potensi pasar domestik yang besar, letaknya juga strategis dekat dengan pusat bahan baku bijih besi di Australia.

Proses Privatisasi Krakatau Steel yang masih berada pada tahap awal ini bukannya tanpa masalah. Investor yang semakin mengerucut kepada produsen baja terbesar dunia AncelorMittal, milik orang terkaya ke-4 di dunia versi forbes Lakhsmi Mittal, dihadapkan pada dua pilihan opsi skema privatisasi antara initial public offering (IPO) dengan skema strategic sales.

Pemerintah melalui Menteri perindustrian Fahmi Idris memastikan pemerintah memilih opsi strategic sales dalam privatisasi PT Krakatau Steel (persero). Pemerintah menilai enjualan saham perdana atau IPO hanya akan berhasil menambah dana tapi tidak berdampak besar dalam menggenjot produksi perusahaan.

Keputusan pemerintah memilih opsi menjual kepemilikan saham kepada mitra strategis juga tidak lepas dari dugaan adanya politik tigkat tinggi dibelakangnya (Tempo 14/4/08). Beberapa anggota DPR memang mendesak pemerintah menjual perseroan negara ini melalui skema penjualan strategis. “Tapi orangnya itu-itu saja,” ujar Komisaris utama Krakatau Steel Taufiequrachman Ruki.

Penjualan saham melalui stategic sales dikhawatirkan akan menggerus aset pemerintah yang sangat strategis ini. Meski pemerintah semula hanya menawarkan 30% saham, pada tahap awal Mittal akan menguasai teknologi dan bahan baku. Setelah itu, Ia akan mengontrol Manajemen hingga akhirnya kepemilikan. Jangan sampai lepasnya Indosat ke Temasek Holdings yang kini terbukti menjadi bumerang kembali terulang.

Styrategic sales 30% saham sebenarnya tidak perlu dilakukan jika mengingat kondisi keuangan Krakatau yang masih kuat dan telah memiliki program revitalisasiuntuk meningkatkan produksi. Krakatau hanya membutuhkan pengembangan teknologi dan ketersediaan bahan baku untuk menjadi perusahaan besar.

Krakatau Steel yang dibangun dengan biaya US$ 2,5 miliar pada masa orde baru sejak semula dianggap sebagai perusahaan “gajah putih” pemerintah. Namun, meski telah berusia lebih dari 30 tahun, produksi bajanya masih belum mampu memenuhi keseluruhan kebutuhan dalam negeri alias dari dulu cuma segitu-gitu aja. Bandingkan dengan Korea Selatan misalnya yang terjun dalam bisnis pembuatan baja dengan bersamaan, yaitu pada awal 1970an. Di tahun 1990an perusahaan baja korsel sudah dapat memenuhi kebutuhan dalam negerinya sekaligus memiliki fondasi perusahaan yang kuat bahkan banyak para konsultan korea yang dipekerjakan perusahaan- perusahaan baja amerika untuk membantu meningkatkan produksi baja disana. Sementara itu, Krakatau Steel bukan saja gagal menjadi pengekspor baja besar, tapi industri baja di Indonesia juga tetap lemah dan harus di proteksi.

Sejarah Krakatau Steel ini seharusnya memberi pemahaman bagi kita bagaimana loyonya kita mengelola perusahaan strategis negara. Jikapun rivatisasi melalui skema strategic sales yang nampaknya akan jatuh pada AncelorMittal ini jadi dilaksanakan, kita harap ini bukan merupakan langkah salah yang sama dan sarat kepentingan seperti pada masa-masa lalu