bapak, besuki, dan tembakau

Saya lahir dan menghabiskan sebagian besar masa kanak-kanak di Besuki, kota besar paada jaman Belanda.
Seperti juga kebanyakan orang, banyak kenangan saat masa-masa kecil terutama yang berhubungan dengan orang tua entah itu ibu atau bapak. satu cerita yang masih saya ingat hingga kini adalah ketika bapak bercerita kepada saya tentang tembakau besuki yang katanya sejak dulu sudah diekspor ke luar negeri, ke Bremen katanya. saat itu saya tidak tau dimana itu Bremen tapi tetap saja saya ingat cerita ini sampai sekarang.
sedikit yang lebih menyenangkan dibanding mengingat-ingat kembali kenangan masa kecil. Tapi sejarah singkat tembakau Besuki ini bukan dari cerita bapak saya dulu.
Karesidenan Besuki dari jaman belanda terkenal akan tembakau na-oogst atau tembakau yang ditanam pasca panen padi pada musim kemarau.
George Birnie sekitar abad ke-19 mendirikan perkebunan tembakau Oud Djemberdi daerah ini yang memproduksi daun tembakau bermutu tinggi untuk pasaran cerutu Eropa terutama Belanda.
Saat itu areal tanam dan produksi tembakau di besuki meningkat akibat tingginya permintaan ekspor tembakau Na-oogst untuk cerutu.
Selain Besuki, ada dua daerah perkebunan besar lain yang menghasilkan tembakau cerutu untuk diekspor ke pasar eropa yaitu Deli dan Vortenlanden atau kekratonan surakarta dan yogyakarta. Kualitas tembakau Deli sebagai daun pembungkus cerutu (wrapper) lebih tinggi dari kualitas tembakau dari daerah perkebunan lain.
Besuki dam Vortenlanden menghasilkan daun pengikat (binder) yang mutunya lebih rendah dan harganya lebih murah. Hanya sebagian kecil untuk daun pembungkus dan lebih banyak sebagai tembakau isi (filler). Harga tembakau besuki di pasaran eropa cukup baik dengan positioningnya ini.
pada tahun 80-an luas lahan untuk penanaman tembakau Na-oogst di karesidenan Besuki mencapai 19.600 Hektar dengan tenaga kerja sekitar 25.000 orang dan mengekspor sekitar 140.000 bal per tahun yang digarap oleh 17 perusahaan ekspor.
Pada pertengahan tahun 50-an terjadi konflik antara Indonesia dan Belanda sehingga lelang dipindahkan ke Bremen, jerman. makanya, bapak saya dulu bilang Bremen bukan Belanda.

1 Response to “bapak, besuki, dan tembakau”


  1. 1 Syaifullah Oktober 14, 2010 pukul 3:32 pm

    besuki…, entah kemana kejayaannya dimasa lalu… bisakah kita kembali jaya seperti dulu? by: “oreng jetis”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: