Kisah Vincent sang whistle blower 

Majelis hakim kasasi menghukum terpidana Vincentius Amin Santoso atau Vincent 11 tahun penjara dan denda Rp 150 juta memperkuat putusan banding pengadilan tinggi DKI Jakarta kecuali soal lama hukuman pengganti jika terpidana tidak membayar denda. Majelis mengubah dari sebelumnya 6 bulan menjadi 1 tahun penjara. Tindak pidana yang didakwakan pada Vincent adalah pencucian uang dan pemalsuan surat.
Kasus ini bermula ketika Vincent yang menjabat pengendali keuangan Asian Agri Group membobol uang Asian Agri dengan membuat dua aplikasi transfer fiktif dari PT Asian Agri Oils and Fats Ltd ke Bank fortis, Singapura, agari mentransfer US$ 3,1 juta (28 Miliar) ke Bank Panin jakarta. Vincent memalsukan tanda tangan dua petinggi Asian Agri di Singapura dan membuat perusahaan fiktif, PT Asian Agri Jaya dan PT Asian Agri Utama. Transfer ini ketahuan setelah Vincent baru mencairkan Rp 200 juta. Bahkan Ia sempat meminta maaf kepada Sukanto tetapi ditolak. Ia lalu membeberkan kasus penggelapan pajak yang dilakukan oleh Asian Agri dan kabur ke Singapura sebelum memutuskan kembali ke Indonesia.
Keputusan kasasi MA terhadap Vincent dirasa janggal karena sama sekali tidak memperhatikan kasus lain yang dilaporkan Vincent dan posisinya sebagai whistle blower. Keluasan hakim dalam memberi putusan bisa dipertanyakan. Vincent adalah saksi kunci yang membongkar dugaan penggelapan pajak terbesar di Indonesia senilai 1,3 triliun oleh Asian Agri Group milik orang terkaya di Indonesia versi majalah forbes, Sukanto Tanoto.
Penyucian uang tidak tepat untuk didakwakan kepada Vincent karena kasus Vincent lebih sebagai penilapan uang perusahaan. Kasus Asian Agri lah yang lebih tepat disebut penyucian uang karena uang hasil penggelapan pajak diduga disimpan di beberapa Bank di luar negeri. Hal ini adalah preseden buruk bagi pelaporan kasus korupsi dan menunjukkan lemahnya lembaga peradilan dalam melindungi saksi.
Tanpa peran Vincent sebagai Whistle blower, kasus penggelapan pajak terbesar ini tidak akan terungkap dan akan banyak lagi kerugian negara akibat penggelapan pajak. Dengan terungkapnya kasus Asian Agri banyak uang negara yang dapat diselamatkan dan dapat menjadi momentum penting dalam penegakan hukum masalah perpajakan di Indonesia.
Masih relevankah ungkapan “ada uang habis perkara” di negeri ini? tidak sulit untuk menjawab jika membandingkan penyelesaian kasus Vincent dengan kasus penggelapan pajak Asian Agri. Perkara Vincent menurut pengacaranya, Petrus Bala Tona, “diputus sangat cepat seperti lewat jalan tol” sedangkan juragan Asian Agri Sukanto Tanoto hingga kini pun belum ditetapkan sebagai tersangka.
Sekedar sebagai perbandingan, di Malaysia whistle blower dihargai dengan layak dan diberi perlindungan yang memadai seperti saat terungkapnya skandal peradilan disana melalui sebuah video sang whistle blower yang merekam proses penyuapan hakim diberi tawaran untuk operasi plastik. Hal ini setidaknya menunjukkan betapa besarnya pemerintah Malaysia dalam menempatkan Whistle blower.

0 Responses to “Kisah Vincent sang <em> whistle blower </em>”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s