IPDN dalam konstruksi media

Tak banyak lembaga pendidikan yang selalu memiliki porsi besar dalam setiap pemberitaan media massa di Indonesia seperti halnya IPDN. Ya, mungkin hanya IPDN lah lembaga pendidikan yang paling banyak dan lama diberitakan oleh media.

Perhatian pers awalnya tersita saat mencuat kasus kematian Wahyu Hidayat tahun 2009 yang lalu disusul dengan kasus kematian Cliff Muntu tahun lalu. Seolah jatuh di lubang yang sama, memang inilah kesalahan besar IPDN. Memang tak semestinya kekerasan muncul di sebuah lembaga pendidikan. Namun, upaya untuk terus berbenah telah banyak dilakukan, pun hingga sampai saat ini. Enam butir instruksi Presiden tentang pembenahan IPDN sungguh telah dijalankan dengan baik dan sistemik.

Sayangnya upaya Recovery ini luput dari sorotan media. Tampaknya pers di Indonesia saat ini lebih suka memuat berita negatif tentang kegagalan atau kekerasan daripada misalnya upaya keras suatu lembaga untuk berbenah.

Toh meski begitu, Pers tetap sukses mengkonstruksi gambaran negatif tentang IPDN dalam masyarakat. Media selama ini sukses memainkan sosok Defining Agent walaupun juga tak dapat dipungkiri di saat bersamaan juga memiliki kecenderungan News Slant/ Kecondongan berita untuk bias.

News Slant memang tidak mesti dilatarbelakangi sebuah kepentingan ataupun ideologi tapi justru dalam hal ini keputusan untuk memberitakan sisi negatif untuk tidak seimbang dengan sisi positifnya tidakkah juga turut berperan dalam mengkonstruksi gambaran negatif terhadap suatu lembaga?

Komentar Trimedya Panjaitan, Ketua komisi III DPR, dalam sebuah wawancara di Televisi menanggapi gempuran pemberitaan negatif terhadap kejaksaan terkait skandal kasus suap Urip cukup relevan dengan keadaan IPDN. Dia mengatakan bahwa Media seharusnya proporsional dalam memuat berita, bedakan antara Shock therapy dengan penghancuran Institusi. Dia juga menambahkan pers seharusnya turut pula membantu pembenahan kejaksaan bukan malah mebuat isu semakin crowded. Situasi seperti ini cukup tipikal dengan apa yang pernah dialami IPDN.

Pers mesti sadar bahwa mereka mengemban pula sisi edukatif dalam setiap pemuatan berita, tidak malah hanya dengan seenak hati memainkan Judgemental elementnya sebagai kartu truf. Pers haruslah konsisten menerapkan kaidah framing dalam pemberitaannya. Keterpenuhan unsur 5W+1H mutlak dalam sebuah berita yang baik dan etis.

Melalui monopoli proses framing inilah pes secara halus membangun konstruksi negatif IPDN dalam masyarakat yaitu dengan metode penyajian realitas dimana kebenaran tentang suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan dibelokkan secara halus dengan hanya memberikan sorotan terhadap aspek-aspek tertentu saja. Tak aneh jika IPDN sangat identik dengan kekerasan.

1 Response to “IPDN dalam konstruksi media”



  1. 1 IPDN dalam konstruksi media · Lacak balik pada Agustus 8, 2008 pukul 5:40 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: